![]() |
Joachim Loew (Pelatih Timnas Jerman) |
Sebuah kebetulan yang aneh. Empat pelatih kesebelasan semifinalis semuanya figur low profile: Vicente del Bosque (Spanyol), si tua yang pernah didepak dari Real Madrid karena dianggap kurang berwibawa dalam menangani Pasukan Galaksi; Joachim Loew (Jerman), pria perlente yang tetap dipandang sekadar pengganti Juergen Klinsmann; Cesare Prandelli (Italia), yang tak pernah melatih klub berkelas “wah”; dan, apalagi Paulo Bento (Portugal), yang masih bau kencur.
Mereka bukan Oleg Blokhin (pelatih Ukraina), yang pernah menghardik wartawan dengan menyebut mereka sebagai tukang omong; atau Morten Olsen (Denmark), yang dengan terang-terangan memarahi seorang anggota panitia yang salah mengeja nama pemainnya; atau Giovanni Trapattoni (Irlandia), pelatih asal Italia yang flamboyan.
Laurent Blanc (Prancis) berada di level para pelatih semifinalis. Mantan stopper berusia 46 tahun ini dikenal memiliki telinga yang sabar untuk mendengarkan masukan dan keluhan para pemainnya. Sempat tersiar kabar terjadi ketegangan di ruang ganti tim Prancis setelah kalah oleh Swedia. Bila tim Prancis masih dipegang pelatih Raymond Domenech, kasus itu pasti menjadi gosip nasional yang besar. Namun Blanc berhasil meredamnya.
Sayangnya, Blanc membawa ke-low profile-annya ke lapangan. Saat berhadapan dengan tim Spanyol pada laga perempat final, Prancis bermain terlalu bertahan dan tak berani menyerang. Dengan memasang lima bek, tim Ayam Jago akhirnya ditekuk Spanyol 0-2.
Roy Hodgson (Inggris) juga memiliki tipe sejenis. Lelaki berusia 64 tahun ini bukan sosok high profile seperti dua pendahulunya: Sven Goran Eriksson dan Fabio Capello. Menghabiskan kariernya lebih banyak di klub-klub Swedia dan klub kecil Inggris--kecuali Liverpool--Hodgson menjadi pintar untuk mengembangkan kehangatan dengan siapa saja, termasuk dengan para pemainnya dan wartawan.
Sifat sederhana Hodgson juga menular ke gaya permainan timnya. Inggris yang sekarang kembali menjadi Inggris ala kick and rush, mengandalkan bola-bola panjang, seperti di masa lalu. Mereka harus ikhlas atas takdir kutukan adu penalti di tangan Italia pada perempat final.
Dari keempat pelatih tim semifinalis, gaji Prandelli paling tinggi, 3 juta euro (sekitar Rp 35,5 miliar) per tahun. Bayaran Loew sedikit di bawahnya, 2,5 juta euro. Sedangkan Del Bosque dan Bento sama-sama memiliki gaji tahunan 1,5 juta euro.
Meski nilai gajinya tinggi, gaji Prandelli belum sampai setengahnya dari uang yang diterima pelatih asal Belanda, Dick Advocaat, dari Federasi Sepak Bola Rusia, 7 juta euro. Pada pergelaran Piala Eropa kali ini, gaji Advocaat tertinggi dibanding yang lain. Meski begitu, bayaran Advocaat masih kalah jauh di hadapan pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, pria asal Portugal yang high profile, gemar bermain kata, dan kerap bersikap arogan.
Pengalaman Prandelli melatih klub besar hanya “sebatas” AS Roma, itu pun tak sampai setahun. Pelatih berusia 54 tahun ini keluar karena merawat istrinya yang sakit kanker. Karier Prandelli lebih banyak dihabiskan dengan klub-klub seperti Atalanta, Lecce, Venezia, Verona, dan Fiorentina.
Prandelli terbiasa dengan suasana klub kecil yang penuh kehangatan. Di tangannya, strikerMario Balotelli, yang berangasan, pun tunduk. Tak bisa dibayangkan, apabila Si Bengal hadir ketika tim Italia masih ditangani Marcello Lippi atau Trapattoni, pastilah tak ada tempat bagi Balotelli.
Bento, pelatih termuda pada Euro 2012, baru berusia 43 tahun. Sepuluh tahun lalu dia masih membela tim nasional Portugal sebagai stopper atau gelandang bertahan. Dua mantan rekan setim Bento, dua bintang besar, Luis Figo dan Rui Costa, kerap mengkritik taktiknya yang mereka anggap memubazirkan potensi Cristiano Ronaldo. Bento menjawab, “Tak ada masalah antara saya dengan Luis dan Rui. Kami hanya berbeda pandangan.”
Loew, 52 tahun, selalu berpakaian rapi di pinggir lapangan dan dalam keseharian. Banyak pihak menganggap dia sekadar beruntung karena menangani tim dengan fondasi yang sudah kuat diletakkan Klinsmann. Pada Piala Dunia 2006, Loew adalah asisten Klinsmann. Sedikit demi sedikit Loew mengubah sorotan orang tersebut. Meski begitu, dari segi gaji, bayaran Loew, 2,5 juta euro, belum bisa menyamai gaji Klinsmann saat itu, 3,5 juta euro per tahun.
Klinsmann sendiri terang-terangan mengakui bahwa, tanpa Loew, dia akan mengalami kesulitan. “Dia yang mengajari saya soal sistem pertahanan,” kata mantan striker yang kini menangani tim nasional Amerika Serikat tersebut. Untuk satu hal, mereka sepaham: sangat demokratis terhadap para pemainnya. Loew bahkan mengizinkan anggota skuadnya untuk dikunjungi pacar dan istri mereka, boleh minum bir, bahkan merokok.
Del Bosque, 61 tahun, bukan pria sembarangan. Di tangannya, klub sebesar Real Madrid berhasil mendulang dua gelar juara Liga Spanyol dan dua trofi Liga Champions. Namun, pada akhir musim 2002/2003, pengurus Madrid memecatnya tanpa alasan. Siapa pun tahun, Del Bosque ditendang karena datangnya gelandang superbintang dari Inggris, David Beckham. Del Bosque dikhawatirkan tak bisa menangani kesuperan sejumlah pemain bintang--selain Beckham, terdapat Zinedine Zidane, Figo, Raul, dan Roberto Carlos--di ruang ganti.
Del Bosque membuktikannya di tim nasional. La Furia Roja--julukan Spanyol--dia bawa menjadi juara Piala Dunia 2010. Spanyol sekarang menjadi tempat berkumpulnya pemain-pemain bintang. Benarkah dia tegar? “Tidak,” kata Vicente del Bosque Junior--anak si pelatih yang memiliki nama sama. “Ayah saya memang menjadi tempat bergantungnya orang-orang. Tapi kami, keluarganya, tahu kalau dia sebenarnya grogi menghadapi kejuaraan ini.” L GUARDIAN | AP | ANDY MARHAENDRA
Courtersy of Koran Tempo
Selasa, 26 Juni 2012