GESTALT PROBLEM dan MISSRECOGNITION | Logika Demistifikasi Tatanan Simbolik NKRI (2)

Gestalt Problem adalah satu konsep yang diajukan Lacan ketika berusaha menjelaskan satu problem identifikasi ego/diri yang dialami bayi (infant) saat berusia sekitar 18 bulan-an. Bagi Lacan, di usia inilah bayi meninggalkan fase pre-oedipal dan mulai memasuki fase cermin atau fase dimana bayi untuk pertama kalinya memasuki dan kemudian “berhasil” mengenali dirinya (I) dalam dunia simbolik/dunia bahasa. Ringkasnya, inilah fase pertama saat bayi mengenali ego/dirinya, dan persis di di dalam peristiwa inilah problem gestalt itu muncul.

TIGA REGISTRASI LACAN | Logika Demistifikasi Simbolik NKRI (1)

Tulisan ini pada dasarnya adalah bagian kecil dari segala upaya untuk membuka sekaligus melampaui deadlock dalam sistem simbolik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke arah tata penanda baru Negara kesejahteraan Republik Indonesia (NkRI). Pertanyaaan mengenai ‘mengapa perlu dilampaui’ sedikitnya sudah diungkap pada bagian latar belakang, yakni demi mengatasi stagnannya peranan negara dalam pemenuhan kesejahteraan warga.

NEGARA KESEJAHTERAAN REPUBLIK INDONESIA


Iwa Inzagi. Prasyarat Teoritis-Institusional Realisasi Negara Kesejahteraan Republik Indonesia. Program Studi Sosiologi Pembangunan, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2010.
ABSTRAK
Cakrawala penelitian ini berkutat di seputar pencarian prasyarat teoritis-institusional demi memungkinkan terealisasikannya cita-cita mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sekaligus sebagai Negara kesejahteraan Republik Indonesia (NkRI). Dengan demikian, apa yang dicoba diretas melalui penelitian ini ialah satu formasi penalaran baru mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lebih berkesejahteraan, kali ini dengan bertopang pada konsep kesejahteraan (welfare) sebagai instrumen integrasinya.

Catatan EURO 2012: Kesuksesan Pria-Pria Rendah Hati

Joachim Loew (Pelatih Timnas Jerman)
Sebuah kebetulan yang aneh. Empat pelatih kesebelasan semifinalis semuanya figur low profile: Vicente del Bosque (Spanyol), si tua yang pernah didepak dari Real Madrid karena dianggap kurang berwibawa dalam menangani Pasukan Galaksi; Joachim Loew (Jerman), pria perlente yang tetap dipandang sekadar pengganti Juergen Klinsmann; Cesare Prandelli (Italia), yang tak pernah melatih klub berkelas “wah”; dan, apalagi Paulo Bento (Portugal), yang masih bau kencur.

Rio+20 dan Pembangunan Berkesinambungan

Jeffrey D. Sachs
Salah satu penerbitan ilmiah terkemuka di dunia, Nature, baru saja merilis rapor sekolah yang pedas menjelang dibukanya Konferensi Tingkat Tinggi Rio+20 mengenai pembangunan berkesinambungan. Nilai yang diberikan pada pelaksanaan ketiga traktat yang ditandatangani pada akhir KTT Bumi Rio pada 1992 adalah sebagai berikut: perubahan iklim F, keanekaragaman hayati F, dan upaya mengatasi desertifikasi F. Apakah umat manusia sebagai sang murid masih bisa mengelak dikeluarkan dari sekolah?

Kita sudah mengetahui setidak-tidaknya selama satu generasi bahwa dunia membutuhkan jalan menuju koreksi. Bukannya menggerakkan

Pemuda dalam Pandangan API


Meminjam Ranciere, pemuda adalah setiap mereka yang berada dalam posisi migrasi. Artinya ia adalah entitas yang selalu berada di tapal batas. Kehadirannya menentukan, ketiadaannya membuat pincang satu generasi.

Dalam kesejarahannya kaum muda adalah mereka yang mengutarakan cinta. Bermodal itu ia ucapkan kalimat-kalimat penolakan pada penjajahan, pada kerja paksa dan kesewenang-wenangan. Sumpah pemuda 1928 menjadi monumennya.

Pemuda adalah mereka yang bergelora. Semangatnya meluap melimpasi tanggul-tanggul tinggi yang tak mampu dilampaui kesadaran jamannya. Proklamasi kemerdekaan 1945 momennya.

Pangkal Korupsi

Saharudin Daming
Salah satu faktor penyebab meluasnya perilaku korup di Indonesia adalah mengguritanya perilaku kleptokrasi yang sudah membudaya. Kalangan eksekutif, legislatif, hingga yudikatif secara tidak terbatas, kini terkontaminasi pola pengabdian kleptokrasi (kesenangan mengambil/menerima penghasilan tambahan dengan cara yang tidak terhormat), misalnya upeti, uang lelah, biaya tambahan, suap, dan markup.

Inspirasi untuk Temen-Temen FPI

"Mike Tyson Jajal Kemampuan Akting di Panggung Broadway". Itulah judul berita Tempo Online Senin 18/06/2012. Jika Mike Tyson saja bisa mencari nafkah dengan benar, mengapa tidak dengan temen-temen FPI? Kembalilah pada jalan yang patut. Manusia adalah Speaking Being (mahluk bertutur) dan Thinking Being (mahluk berpikir). Janganlah rasa kebersamaan kita dirusak oleh tindakan-tindakan kekerasan. Kedepankan sikap mau berdialog dengan pikiran jernih yang berorientasi penuh pada kemaslahatan semua pihak.

Say no to vandalims! 


Keterangan Gambar:
Sutradara film Spike Lee (kanan) memperhatikan mantan juara kelas berat Mike Tyson menyanyi dalam konferensi pers debut Broadway Tyson berjudul "Mike Tyson: Undisputed Truth" di New York, Amerika Serikat, Senin (18/6) REUTERS/Keith Bedford

Peluruhan Demokrasi di Partai Golkar

Cover Album Rage Against the Machine
Hasrat Partai Golkar (PG) untuk menjadi partai modern agaknya mendapat tantangan cukup berat baru-baru ini. Percepatan agenda Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) dengan agenda tunggal pencapresan Aburizal Bakrie mengindikasikan kemunduran sangat serius di partai yang begitu dominan di masa Orba ini. Padahal, sejak memasuki era Reformasi –meskipun sempat dibayangi tuntutan pembubaran– Golkar dinilai cukup sukses melakukan penyesuaian diri dengan sistem demokrasi yang meniscayakan keterbukaan serta partisipasi penuh setiap orang dalam setiap

Tantangan Politik Nasional 2014. Catatan Robertus Robet & Heru Lelono

Dr. Robertus Robet
Setelah lebih dari satu dasawarsa, politik kita menyuguhkan kehidupan berdemokrasi yang relatif makin kokoh. Bukti kekokohan demokrasi itu bisa kita lihat secara unik yakni justru dari adanya aneka kritik dan desakan terhadap demokrasi itu sendiri. Hanya demokrasi, yang mengijinkan kritik total terhadap kehidupan politik di dalamnya. Makin terbuka ia terhadap kritik, maka ia akan terlembaga secara kuat. Di sini, demokrasi bekerja secara paradoksal: semakin segala pihak mengkritik dan menghantam politik demokrasi kini sebagai kurang pas, kurang ideal maka sesungguhnya ia makin menikmati demokrasi. Ia mungkin kurang sadar bahwa ia hanya dapat memproduksi kritik bertubi-tubi karena ada sistem politik yang menjamin adanya kekuasaan

Consumo Ergo Sum


Rocky Gerung
Pengajar filsafat Universitas Indonesia

Prof. Rocky Gerung
Sebuah kelompok arisan di Jakarta patungan membeli tas tangan Hermes buatan Prancis berharga seratusan juta rupiah. Lalu setiap anggota bergilir memakainya. Seorang politikus muda mondar-mandir di lounge sebuah hotel, berbalut Hugo Boss, jas mahal Jerman, tapi dengan merek yang masih menempel di lengannya.

Citra, status, dan konsumsi adalah produk kebudayaan massa. Ia menggoda selera, lalu memicu hasrat conspicuous consumption. Tapi suatu godaan aristokratik yang hendak dipuaskan secara instan sering hanya menghasilkan kegagapan sosial, plus kelucuan budaya.

Kelas menengah? Inilah "kelas" yang sangat menjengkelkan para pembaca Marx. Yaitu kelas yang sekadar tumbuh menempel pada tubuh kapitalisme, tapi tanpa kehendak "investasi"

Tentang Jacques Lacan

Jacques Lacan 
THE CULT of LACAN 
FREUD, LACAN & THE MIRROR STAGE 

by Richard Webster

THE CAREER OF JACQUES LACAN is one of the most remarkable phenomena in twentieth century intellectual history. Until 1966, when, at the age of 65, he published his Ecrits, very few people outside a small group of Parisian intellectuals were aware of his existence. Even within the psychoanalytic movement he was very much a minor figure, an

Il Maestro Rocky Gerung on The Origins of Neoliberalism

Il Maestro Rocky Gerung
Belakangan ini "hantu" neolib yang merupakan kosa-kata gaib dalam kamus kepolitikan kita itu mulai kembali digunakan untuk menakut-nakuti rasionalitas pemilih. Dengan kalimat lain, disini tak syak lagi kita tengah berbicara mengenai "potensi century" yang akan kembali dieksploitir dan dimaksimalisasi Kawanan Oligark yang bisa dipastikan akan menyalak-nyalak galak di sepanjang malam-malam mereka yang resah menuju ambang batas kuasa 2014.

Mereka tidak ingin kiamat pasca 2014! Artinya, komplotan/Genk aliran hitam ini selalu dahaga haus kuasa. Sayangnya itu selalu ditempuh dengan cara merampas akal sehat publik! Baik dengan cara ditukar-tambah uang atau dengan pengelabuan via media.

Sri Mulyani: Saya Pasti Pulang

Dr. Sri Mulyani Indrawati
KOMPAS 
Minggu, 23 Mei 2010 | 04:04 WIB

”Namanya saja Sri Mulyani… sudah pasti saya akan menjalankan tugas mewakili Indonesia. Pasti… Aku ora minggat lan wis mesti mulih….”

Saya tidak minggat dan pasti pulang….” Kalimat itu meluncur begitu saja dari Sri Mulyani Indrawati (47)

Cannon of Intellectual

Dr. Robertus Robet on Republicanism 
Republikanisme berbingkai Pancasila. Deret kombinasi kata itulah yang pada akhirnya dipilih sebagai satu kalimat utuh untuk mendeskripsikan ideologi resmi yang dianut Partai SRI. 

Sebagaimana kita semua ketahui, bentuk negara kita adalah republik. Familiar dengan sebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Renungan Gerungian

Yang kita miliki kini cuma Industri Demokrasi, bukan Demokrasi dalam normatifitasnya yang sublim. 

Produk yang diolah mesin demokrasi ini ialah bahan mentah aspirasi yang diproses dalam satu gerak rutin putaran roda gila yang menjemukan. 

Resultannya kita namai komoditas aspirasi. Semata biar mudah menyebutnya. 

Komodifikasi aspirasi sejatinya kotoran yang keluar dari lambung para oligark. Benda-benda busuk ini kita sebut saja konsensus oligarki. Artinya, aspirasi kini bukan pertama-tama disuling dari letih tatib tata cara prosesi artikulasi atas apa yang terpancar dari dasar diri, yaitu yang lama terendap, yang tersarikan, dan yang selebihnya terbuang karena sengaja diseleksi; yang-Etik sebutannya.  

Artikuasi aspirasi bukanlah buah mentah yang jatuh ke tanah tanpa pernah mengecap matang. Melainkan yang telah masak-masak dipikirkan. Yang matang di renungan. Yang kenyal karena alot diperdebatkan; yang begitu lama dididihkan dalam panci uji laboratorium kesabaran. Itulah aspirasi, yakni satu praktik translasi sarat arti, yang dikalimatisasi dan ditulis sebagai proposal perubahan sosial.  

Namun ujung kerinduan ini kelihatannya belum jua tampak di pelupuk mata. Tak kunjung terlihat daratan. Masih terlunta-lunta di samudera. Sama sekali belum menunjukkan gelagat bahwa perjalanan akan segera diakhiri dengan pesta sederhana, yaitu mendekap rapat kegembiraan bersama. 

Di tengah-tengah perjalanan tak berkesudahan ini, nyali, daya juang, juga kesetiaan, terasa makin meniscayakan kesungguhan. Bukan main menuntut kita terus menerus tunduk pada batu ujian kegigihan. Sementara itu, yang terasing terus menerus disakiti, yang diam terus-terusan dibungkam, yang tampak setia justru dikhianati --dan celakanya semua itu justru dilakukan dengan mengatasnamakan demokrasi. 

Sekali lagi, tanpa bermaksud menggurui, yang cuma kita miliki adalah industri demokrasi. Itulah medan persoalannya sekaligus peta untuk menunjuki harus kemana dan atau akan harus kembali kedalam apa.


Demokrasi Kurva Lonceng


Il Maestro Rocky Gerung
Tiga survei tentang elektabilitas calon presiden 2014 dua pekan lalu. Tiga-tiganya datang dengan hasil berbeda. Kelirukah metodologinya? Atau desain risetnya memang dirancang unutuk “memenangkan sang calon”.

Kurva lonceng adalah ideologi para surveyor. Dijamin standar baku metodologi, kurva itu seharusnya tidak meliuk-liuk berlebihan.tapi sejak politik diasuransikan pada statistik, liuk kurva itu akan sangat bergantung pada premi para politikus.
Inilah kondisi politik hari ini: pertama, opini publik menjadi identik dengan hasil survei. Kedua, popularitas seorang tokoh hari ini tidak didebitkan pada cacat politiknya hari kemarin. Dua kondisi inilah yang menerangkan patologi politik kita hari ini: demokrasi tampak membengkak, tapi tidak tumbuh. Hiruk-pikuk debat publik sekadar menghasilkan bising, bukan suara. Politik kita silau oleh sensasi, tapi buta dalam substansi.

Pembengkakan tubuh politik itu akibat muatan kuantifikasi: penggalangan, pencitraan, arogansi dan transaksi. Politik membengkak karena kekuasaan ditimbun dalam ambisi kepentingan personal, bukan dalam niat keadilan sosial. Perlombaan inilah yang menumbuhkan industri opini publik dan sejak itulah politik menjadi urusan statistik.

Apakah sesungguhnya substansi politik? Demokrasi adalah ruang opini publik. Kontestasi kepentingan diselenggarakan disitu. Tapi ideal ini menghendaki prasyarat etik: seluruh latar belakang kepentingan harus dipamerkan terbuka. Dengan cara itu, politik diproduksi. Itulah politik yang otentik. Di belakang proses ini, bekerja nilai kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Nilai-nilai inilah yang kini hilang dari proposal riset publik, dengan akibat juga tugas etis politik untuk memberdayakan“the unspeakable” yaitu mereka yang ada di pinggiran kurva lonceng.

Kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Palang otentik ini mungkin terlalu tinggi untuk dilompati para perancang opini publik. Teori propaganda memang mengajarkan bahwa lebih mudah menggiring herd mentality menerobos dibawah palang. Artinya manipulasi opini publik memang sesuai dengan kondisi dasar psikologi massa: bergerombol tanpa ide, menunggu disuapi janji, lalu siap diperintah. Psikologi ini adalah lahan investasi para demagog. Dengan mengekspoitasi kedunguan publik, demokrasi masih dapat dipertanggungjawabkan dengan argument: “itulah kehendak mayoritas”.

Memang demokrasi lebih sering dimanfaatkan oleh para demagog dengan menurunkan standar etika politik. Disitu opini publik diperlakukan sebagai komoditas dalam “industri demokrasi”, dan dipasarkan melalui lembaga-lembaga survei. Filosofinya diperoleh dengan cara pragmatis dari prinsip demokrasi itu sendiri: demi kebebasan kompetisi politik, manipulasi opini publik harus diterima sebagai suatu bentuk upaya persuasi. Sampai disitu politik masih menjadi urusan publik. Artinya, sejauh manipulasi itu diedarkan di pasar informasi, ia terbuka untuk dipersaingkan. Demokrasi tetap percaya publik selalu memiliki cukup rasionalitas untuk menapis dan memilih.

Bila pasar informasi itu dikendalikan oleh kepentingan politik yang sama, yang terjadi bukan sekadar manipulasi, tapi juga monopoli opini publik. Dalam pasar semacam ini, prinsip “caveat emptor”  -teliti sebelum membeli- tidak berfungsi. Karena informasi tidak lengkap, tidak ada kesempatan memilih harapan. Demokrasi lalu menjadi sekadar ruang transaksi oligarki tempat tukar tambah kepentingan segelintir orang.

Apalagi politik kita pahami dari sudut pandang etik, yaitu tanggungjawab merawat kualitas demokrasi justru dibebankan kepada mereka yang secara akademis lebih mampu berfikir lurus dan panjang. Pada merekalah tuntutan atas kejujuran dan keadilan diharapkan: suatu etik “caveat venditor” –bahwa penjual jasa tidak menjual barang rongsokan. Agaknya, palang ini sudah lama roboh diterobos tubuh-tubuh bengak.

                                                                               ***

OPINI publik adalah peralatan ekstraparlementer dengan kekuatan supraparlementer. Ia mampu memelorotkan pamor seseorang pemimpin, tapi juga dapat dipakai untuk menyembunyikan niat korup dari seseorang tokoh. Disinilah “kapital media” beroperasi.

Manipulasi dan monopoli opini publik, menjadikan demokrasi sekadar menjadi bagian dari industri media. Fungsi institusi demokrasi bahkan dapat diambil alih oleh industri media: tekanan politik dapat dinegoisasikan diruang redaksi, dan sebuah “talkshow” dapat berubah menjadi ruang pengadilan.

Politik industri media ini jugalah yang menyebabkan demokrasi kita sekadar membengkak, tapi tidak tumbuh. Dalam demokrasi, setiap suara dihitung sama. Tapi arah suara publik dapat dimanipulasikan oleh indutri opini publik karena informasi tidak terakses sama oleh publik. Distorsi inilah yang menjadi ruang transaksi antara pembuat survei dan kepentingan pemesan. Sekali lagi, argumentnya adalah prinsip kebebasan kompetisi politik.

Dalam kondisi seperti itu, hubungan antara demokrasi dan opini publik menjadi tidak suci. Demokrasi memerlukan opini publik untuk mengetahui peta perebutan sumber-sumber ekonomi-politik, tapi demokrasi sekaligus dimanfaatkan sebagai ruang pembenaran ruang manipulasi. Paradoks inilah yang sedang kita alami.

Walau begitu, politik tidak boleh menjadi malas hanya karena kondisi yang menjengkelkan itu. Analisis politik adalah satu soal. Tapi kehendak politik harus melampaui apa yang faktual. Dengan sikap itu, kita memerangi “ herd mentality” dalam politik kita hari-hari ini. Radikalisasi ini kita perlukan untuk memastikan opini publik bukanlah  konsensus oligarki, parlementer, atau hasil olahan statistik. Opini publik adalah hasil dari konfrontasi etik, antara kehendak perubahan dengan kepentingan privat. Disitu statistik hanyalah konfirmasi terhadap kehendak pembaruan.

                                                                                         ***

POLITIK kita memang sangat terasa kuantitif: mobilisasi massa, belanja iklan, black propaganda. Tidak tersisa lagi ruang ide dan debat rasional. Politik sebagai percakapan keadilan diantara warga yang setara tidak lagi berlangsung. Mobilisasi Cuma menyetarakan massa didepan panggung para demagog. Dalam ruang kuantifikasi itu, warga negara sekadar dicacah sebagai konsumen, bukan prodsen demokrasi. Ia hadir dalam kerumunan, bukan ruang kewargaan. Ia sungguh-sungguh dinonaktifkan dari politik.

Sesungguhnya, demokrasi kita sedang kehilangan ide kesetaraan. Kita memilih demokrasi karena kita pernah kekurangan kebebasan. Tapi kini ruang demokrasi itu sepenuhnya dikuasai oleh blok oligarkis. Proses itu terjadi karena politik telah diselenggarakan secara kuantitatif: yang dieksploitasi adalah kepuasan tentang ada yang didepan mata, bukan tentang apa yang harus ada sebagai hak.

Mengaktifkan etika publik adalah upaya radikal mengembalikan politik warga. Politik kuantitatif-demagogis tidak hanya bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan, tapi juga merendahkan otonomi manusia. Ia menyelenggarakan keadilan dan kesetaraan agar otonomi itu tidak dimusnahkan oleh ambisi-ambisi kuantitatif: dari klaim keunggulan moral sampai keunggulan kapital.

Etika politik bertujuan mencegah pembengkakan politik. Etika politik menghendaki politik tumbuh dalam keadilan.

Survei politik masih akan berdatangan. Distorsi opini masih terus diproduksi. Kurva lonceng masih akan meliuk-liuk. Tapi politik tetaplah hak publik. Yang etik tidak mungkin diserahkan pada statistik. Politik sejati tidak diukur berdasarkan probabilitas, melainkan determinitas setiap subyek yeng menghendaki demokrasi tumbuh.

Ketika diminta mengomentari keruntuhan Imperium Romawi, Jeans Jacques Rousseau menjawab singkat “Etika politik adalah lambung demokrasi. Ia mencerna opini publik, lalu memisahkan mana opini bawaan, mana opini olahan."

ROCKY GERUNG
Pengajar Filsafat Universitas Indonesia    

Mimesis Struktur Ketidaksetaraan Ekonomi Obyektif Kedalam Struktur Mental Randah Diri Subyektif



Nah, darimana asal muasal struktur rasa sepeti ini muncul? Dalam perspektif kesejahteraan, horor seperti ini timbul dari struktur ketidakmerataan distribusi kesejahteraan yg membuat satu sama lain tidak equal; yg satu tinggi hati, yg lainnya rendah diri.

Karya seni semacam ini adalah artikulasi paling relevan untuk menyoroti bagaimana struktur sosial obyektif secara dialketis berkorespondensi dan pada gilirannya mempengaruhi konfigurasi struktur mental subyektif.

Disini, karya seni ditempatkankan sebagai teks sebagaimana lazimnya diperlakukan dalam stud-studi kebudayaan (cultural studies). berikut teksnya:

RADIO HEAD_CREEP

When you were here before
Couldn't look you in the eye
You're just like an angel
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
I wish I was special
You're so fucking special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here

I don't care if it hurts
I want to have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice when I'm not around
You're so fucking special
I wish I was special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell I'm doing here?
I don't belong here

She's running out again
She's running out
She runs runs runs

Whatever makes you happy
Whatever you want
You're so fucking special
I wish I was special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
I don't belong here

Why So Serious??

Joker said:
Even if you have to die...
then die with your very best smile appearing in your face ...

*
Perhaps u did't know, Joker known as the most cruel man in Gotham.. So, if the most cruel criminal's in Gotham made such statement, then why we were so serious so far?!!! :D


Mengoperasikan Etika Kesetaraan Jacques Rancierre

Satu draft ttg etika distribusi wefare dalam rezim negara kesejahteraan republik indonesia


There is politics when there is a part of those who have no part [Politik ada jika terdapat bagian bagi mereka yg-bukan bagian]. 
Jacques Ranciere

Di titik ini yang-politis berupaya menemukan cara bagi mrk yang tersingkirkan untuk muncul dan masuk dalam hitungan.
Robertus Robet


Mengoperasikan kategori mengenai yg-politis dalam pikiran filsafat politik Rancierre bisa dipenuhi dgn pertama-tama mencangkokkan satu konsep lain yang dirumuskan oleh  Gosta Esping-Andersen ketika dia mengabstraksi satu tipologi rezim kesejahteraan --dalam hal ini rezim negara kesejahteraan sosial demokrat. Konsep yang dimaksud adalah konsep "kewargaan sosial" (social citizenship). 

Reasoningnya adalah, karena konsep social citizenship berhasil memasukkan setiap orang sebagai yang harus "dihitung" oleh negara. Ringkasnya, konsep ini beroperasi dalam dua level. Pertama dalam proses atribusi kedalam konsep warga. Kedua, penyetaraan melalui praktik distribusi welfare. Pada dua momen ini semua orang dipatenkan sebagai "bagian" tak terpisahkan dari negara. 


Hal ini terjadi terutama ketika pemerintah melancarkan satu set tindakan eksperimentasi politik kesejahteraan, dalam bentuk produksi dan redistribusi well-being yang ditujukan bagi pemerataan kesejahteraan bagi semua orang.

Di titik ini kita bisa mengajukan Swedia sebagai contoh. Efek atribusi kedalam "warga" pada kategori produksi dan redistribusi welfare secara mencengangkan berhasil membuat semua orang mampu menikmati priviledge dari keanggotaan politiknya. Dalam rumusan yg lebih operasional, pengalaman Swedia ini misalnya bisa dituliskan kedalam formula: bahwa semua orang --lepas dari fakta bahwa dia miskin atau kaya, PNS ataupun wiraswasta, pria maupaun wanita, muda dan tua-- seluruhnya dianggap berhak dan dipastikan mendapatkan seluruh jaminan sosial yang diintroduksi negara

Masih mengacu kedalam pengalaman Swedia, secara serempak dan dalam waktu yang bersamaan semua orang bisa menikmati hak-hak ekosob sembari tetap menikmati hak-hak sipil politiknya. Di titik ini, menjadi tak mengherankan jika umumnya intelektual kelas dunia menulis dalam kertas kerjanya -dan hampir semuanya dalam intonasi penuh kekaguman- bahwa Swedia adalah: The most universalist welfare state in the world.


Disini, jika dalam Rancierre yg-politis ditemukan di dalam the aesthetics, maka dalam kasus Swedia yg-politis ditemukan di dalam praktik produksi-distribusi welfare.


Kembali kepada Indonesia, secara hipotetis yg-politis potensial bisa ditemukan pasca diintroduksinya satu platform "Negara Kesejahteraan Republik Indonesia" atau visi kenegaraan baru yang difungsikan sebagai haluan simbolik untuk menavigasi satu rangkaian gerak penetratif ke arah NKRI yang berkesejahteraan dan berkesetaraan.


Dengan tawaran ini, Indonesia yg buram dan stagnan tidak lagi cuma bisa dihayati dalam nuansa yg pesimistik, melainkan juga memungkinkan untuk difahami dalam kategorinya Ranciere, yakni yang berada dalam posisi migrasi. 


Meminjam istilahnya Badiou, NKRI yang ditempatkan dalam posisi migrasi Rancierre ialah NKRI yang tengah berada di dalam keadaan menjadi; NKRI yg selalu berada dalam posisi in the making, dengan kita semua sebagai aktor-aktor yang telibat penuh dalam rekayasa perubahannya. 


NKRI adalah something else is possible


Iwa Inzagi