Mengapa Demokratisasi Masih Pilihan dan Masih Perlu Kita Perdalam

Iwa Inzagi | Peneliti P2D

Memasuki demokrasi mengandung arti meninggalkan cara hidup lama dan memasuki yang baru. Mengayunkan langkah ke alam demokrasi berarti memasuki laku hidup di dalam masyarakat sipil. 
Dalam kesejarahannya, hidup di dalam masyarakat sipil atau masyarakat politik berarti hidup dengan pertama-tama melepaskan diri dan kemanusiaan dari seluruh tatanan logika teosentrisme. Di titik ini, maka memasuki demokrasi berarti memasuki alam pikir humanisme, yaitu suatu formasi penalaran yang menyatakan dirinya sebagai pihak pengusung agenda pengaktualan keutamaan dan kemajuan manusia. Tak syak lagi, dalam tujuannya, pikiran utama yang dibubuhkan dalam pernyataan barusan dimaksudkan untuk menggarisbawahi positivitas terpenting yang terkandung dalam pilihan ketika memutuskan hidup di dalam sistem kepolitikan demokratis.

Edisi Pemikiran Filsafat Politik Liberal | Jean-Jacques Rousseau

Generale Volante atau Kehendak Politik
iwa inzagi [peneliti pada perhimpunan pendidikan demokrasi]


“Rousseau's phrases, Liberty, Equality and Fraternity became the guiding spirit of French revolution and have been influencing political philosophy and political movements since then”. (Lord Morley)

Pengantar
Salah satu teknik deskriptif yang umum digunakan untuk memahami kompleks pemikiran Jean Jacques Rousseau (1712-1778) ialah dengan pertama-tama mendeteksi intensi yang melandasi teorisasinya. Di dalamnya termasuk mencermati ruh pemikiran yang menjadi jiwa zamannya. Kedua, yaitu masuk kedalam konsep-konsep kunci yang diajukannya. Ketiga, dengan memperhatikan kritik-kritik terpenting yang diajukan terhadap pemikirannya. Teknik serupa akan diterapkan dalam tulisan ini. Di bagian pertama kita akan mendiskusikan historycal background yang membentuk intensi dan melandasi teorisasi Rousseau terkait generale volante. Di bagian berikutnya kita akan mendiskusikan konsep-konsep terpenting yang diajukan dan membentuk pandangan politiknya. Pada bagian akhir, tulisan ini akan mendiskusikan dan melihat relevansi atau pengaruh teori politik Rousseau terhadap praktik kepolitikan modern, sekaligus kelemahan-kelemahannya.

Edisi Pemikiran Filsafat Politik Liberal | Thomas Hobbes dan John Locke

Dari Laku Hidup Soliter ke Masyarakat Politik: Catatan tentang Dimensi Intelektual Negara Modern

Oleh Iwa Inzagi ~ Pelajar Filsafat

Politik kurang lebih bisa diartikan sebagai percobaan hidup di dalam kebersamaan. Dengan demikian, status politik adalah pilihan sadar. Adapun hidup didalam (masyarakat) politik secara mendasar bersifat niscaya atau tak terelakkan. Genealogi pandangan semacam ini bisa kita telusuri jauh kedalam pemikiran Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704).

Dalam Hobbes, pada mulanya politik adalah statement of fear, yaitu ungkapan penolakan individu terhadap ketakutan yang dirasakannya. Sedangkan masyarakat politik (commonwealth) adalah ekspresi institusional dari individu untuk terhindar dari terulangnya ketakutan-ketakutan traumatis yang pernah mereka alami di dalam state of nature

Dengan demikian, kehendak politik, yang di tahap terkemudian membentuk masyarakat politik, pertama-tama harus dibaca sebagai modus resistensi individu-individu demi untuk meloloskan diri dari horor laku hidup individualistik (yang traumatik) sebagaimana dialami di dalam forma kehidupan alamiahnya.

GESTALT PROBLEM dan MISSRECOGNITION | Logika Demistifikasi Tatanan Simbolik NKRI (2)

Gestalt Problem adalah satu konsep yang diajukan Lacan ketika berusaha menjelaskan satu problem identifikasi ego/diri yang dialami bayi (infant) saat berusia sekitar 18 bulan-an. Bagi Lacan, di usia inilah bayi meninggalkan fase pre-oedipal dan mulai memasuki fase cermin atau fase dimana bayi untuk pertama kalinya memasuki dan kemudian “berhasil” mengenali dirinya (I) dalam dunia simbolik/dunia bahasa. Ringkasnya, inilah fase pertama saat bayi mengenali ego/dirinya, dan persis di di dalam peristiwa inilah problem gestalt itu muncul.

TIGA REGISTRASI LACAN | Logika Demistifikasi Simbolik NKRI (1)

Tulisan ini pada dasarnya adalah bagian kecil dari segala upaya untuk membuka sekaligus melampaui deadlock dalam sistem simbolik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke arah tata penanda baru Negara kesejahteraan Republik Indonesia (NkRI). Pertanyaaan mengenai ‘mengapa perlu dilampaui’ sedikitnya sudah diungkap pada bagian latar belakang, yakni demi mengatasi stagnannya peranan negara dalam pemenuhan kesejahteraan warga.

NEGARA KESEJAHTERAAN REPUBLIK INDONESIA


Iwa Inzagi. Prasyarat Teoritis-Institusional Realisasi Negara Kesejahteraan Republik Indonesia. Program Studi Sosiologi Pembangunan, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2010.
ABSTRAK
Cakrawala penelitian ini berkutat di seputar pencarian prasyarat teoritis-institusional demi memungkinkan terealisasikannya cita-cita mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sekaligus sebagai Negara kesejahteraan Republik Indonesia (NkRI). Dengan demikian, apa yang dicoba diretas melalui penelitian ini ialah satu formasi penalaran baru mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lebih berkesejahteraan, kali ini dengan bertopang pada konsep kesejahteraan (welfare) sebagai instrumen integrasinya.

Catatan EURO 2012: Kesuksesan Pria-Pria Rendah Hati

Joachim Loew (Pelatih Timnas Jerman)
Sebuah kebetulan yang aneh. Empat pelatih kesebelasan semifinalis semuanya figur low profile: Vicente del Bosque (Spanyol), si tua yang pernah didepak dari Real Madrid karena dianggap kurang berwibawa dalam menangani Pasukan Galaksi; Joachim Loew (Jerman), pria perlente yang tetap dipandang sekadar pengganti Juergen Klinsmann; Cesare Prandelli (Italia), yang tak pernah melatih klub berkelas “wah”; dan, apalagi Paulo Bento (Portugal), yang masih bau kencur.

Rio+20 dan Pembangunan Berkesinambungan

Jeffrey D. Sachs
Salah satu penerbitan ilmiah terkemuka di dunia, Nature, baru saja merilis rapor sekolah yang pedas menjelang dibukanya Konferensi Tingkat Tinggi Rio+20 mengenai pembangunan berkesinambungan. Nilai yang diberikan pada pelaksanaan ketiga traktat yang ditandatangani pada akhir KTT Bumi Rio pada 1992 adalah sebagai berikut: perubahan iklim F, keanekaragaman hayati F, dan upaya mengatasi desertifikasi F. Apakah umat manusia sebagai sang murid masih bisa mengelak dikeluarkan dari sekolah?

Kita sudah mengetahui setidak-tidaknya selama satu generasi bahwa dunia membutuhkan jalan menuju koreksi. Bukannya menggerakkan

Pemuda dalam Pandangan API


Meminjam Ranciere, pemuda adalah setiap mereka yang berada dalam posisi migrasi. Artinya ia adalah entitas yang selalu berada di tapal batas. Kehadirannya menentukan, ketiadaannya membuat pincang satu generasi.

Dalam kesejarahannya kaum muda adalah mereka yang mengutarakan cinta. Bermodal itu ia ucapkan kalimat-kalimat penolakan pada penjajahan, pada kerja paksa dan kesewenang-wenangan. Sumpah pemuda 1928 menjadi monumennya.

Pemuda adalah mereka yang bergelora. Semangatnya meluap melimpasi tanggul-tanggul tinggi yang tak mampu dilampaui kesadaran jamannya. Proklamasi kemerdekaan 1945 momennya.

Pangkal Korupsi

Saharudin Daming
Salah satu faktor penyebab meluasnya perilaku korup di Indonesia adalah mengguritanya perilaku kleptokrasi yang sudah membudaya. Kalangan eksekutif, legislatif, hingga yudikatif secara tidak terbatas, kini terkontaminasi pola pengabdian kleptokrasi (kesenangan mengambil/menerima penghasilan tambahan dengan cara yang tidak terhormat), misalnya upeti, uang lelah, biaya tambahan, suap, dan markup.

Inspirasi untuk Temen-Temen FPI

"Mike Tyson Jajal Kemampuan Akting di Panggung Broadway". Itulah judul berita Tempo Online Senin 18/06/2012. Jika Mike Tyson saja bisa mencari nafkah dengan benar, mengapa tidak dengan temen-temen FPI? Kembalilah pada jalan yang patut. Manusia adalah Speaking Being (mahluk bertutur) dan Thinking Being (mahluk berpikir). Janganlah rasa kebersamaan kita dirusak oleh tindakan-tindakan kekerasan. Kedepankan sikap mau berdialog dengan pikiran jernih yang berorientasi penuh pada kemaslahatan semua pihak.

Say no to vandalims! 


Keterangan Gambar:
Sutradara film Spike Lee (kanan) memperhatikan mantan juara kelas berat Mike Tyson menyanyi dalam konferensi pers debut Broadway Tyson berjudul "Mike Tyson: Undisputed Truth" di New York, Amerika Serikat, Senin (18/6) REUTERS/Keith Bedford

Peluruhan Demokrasi di Partai Golkar

Cover Album Rage Against the Machine
Hasrat Partai Golkar (PG) untuk menjadi partai modern agaknya mendapat tantangan cukup berat baru-baru ini. Percepatan agenda Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) dengan agenda tunggal pencapresan Aburizal Bakrie mengindikasikan kemunduran sangat serius di partai yang begitu dominan di masa Orba ini. Padahal, sejak memasuki era Reformasi –meskipun sempat dibayangi tuntutan pembubaran– Golkar dinilai cukup sukses melakukan penyesuaian diri dengan sistem demokrasi yang meniscayakan keterbukaan serta partisipasi penuh setiap orang dalam setiap

Tantangan Politik Nasional 2014. Catatan Robertus Robet & Heru Lelono

Dr. Robertus Robet
Setelah lebih dari satu dasawarsa, politik kita menyuguhkan kehidupan berdemokrasi yang relatif makin kokoh. Bukti kekokohan demokrasi itu bisa kita lihat secara unik yakni justru dari adanya aneka kritik dan desakan terhadap demokrasi itu sendiri. Hanya demokrasi, yang mengijinkan kritik total terhadap kehidupan politik di dalamnya. Makin terbuka ia terhadap kritik, maka ia akan terlembaga secara kuat. Di sini, demokrasi bekerja secara paradoksal: semakin segala pihak mengkritik dan menghantam politik demokrasi kini sebagai kurang pas, kurang ideal maka sesungguhnya ia makin menikmati demokrasi. Ia mungkin kurang sadar bahwa ia hanya dapat memproduksi kritik bertubi-tubi karena ada sistem politik yang menjamin adanya kekuasaan

Consumo Ergo Sum


Rocky Gerung
Pengajar filsafat Universitas Indonesia

Prof. Rocky Gerung
Sebuah kelompok arisan di Jakarta patungan membeli tas tangan Hermes buatan Prancis berharga seratusan juta rupiah. Lalu setiap anggota bergilir memakainya. Seorang politikus muda mondar-mandir di lounge sebuah hotel, berbalut Hugo Boss, jas mahal Jerman, tapi dengan merek yang masih menempel di lengannya.

Citra, status, dan konsumsi adalah produk kebudayaan massa. Ia menggoda selera, lalu memicu hasrat conspicuous consumption. Tapi suatu godaan aristokratik yang hendak dipuaskan secara instan sering hanya menghasilkan kegagapan sosial, plus kelucuan budaya.

Kelas menengah? Inilah "kelas" yang sangat menjengkelkan para pembaca Marx. Yaitu kelas yang sekadar tumbuh menempel pada tubuh kapitalisme, tapi tanpa kehendak "investasi"

Tentang Jacques Lacan

Jacques Lacan 
THE CULT of LACAN 
FREUD, LACAN & THE MIRROR STAGE 

by Richard Webster

THE CAREER OF JACQUES LACAN is one of the most remarkable phenomena in twentieth century intellectual history. Until 1966, when, at the age of 65, he published his Ecrits, very few people outside a small group of Parisian intellectuals were aware of his existence. Even within the psychoanalytic movement he was very much a minor figure, an

Il Maestro Rocky Gerung on The Origins of Neoliberalism

Il Maestro Rocky Gerung
Belakangan ini "hantu" neolib yang merupakan kosa-kata gaib dalam kamus kepolitikan kita itu mulai kembali digunakan untuk menakut-nakuti rasionalitas pemilih. Dengan kalimat lain, disini tak syak lagi kita tengah berbicara mengenai "potensi century" yang akan kembali dieksploitir dan dimaksimalisasi Kawanan Oligark yang bisa dipastikan akan menyalak-nyalak galak di sepanjang malam-malam mereka yang resah menuju ambang batas kuasa 2014.

Mereka tidak ingin kiamat pasca 2014! Artinya, komplotan/Genk aliran hitam ini selalu dahaga haus kuasa. Sayangnya itu selalu ditempuh dengan cara merampas akal sehat publik! Baik dengan cara ditukar-tambah uang atau dengan pengelabuan via media.

Sri Mulyani: Saya Pasti Pulang

Dr. Sri Mulyani Indrawati
KOMPAS 
Minggu, 23 Mei 2010 | 04:04 WIB

”Namanya saja Sri Mulyani… sudah pasti saya akan menjalankan tugas mewakili Indonesia. Pasti… Aku ora minggat lan wis mesti mulih….”

Saya tidak minggat dan pasti pulang….” Kalimat itu meluncur begitu saja dari Sri Mulyani Indrawati (47)

Cannon of Intellectual

Dr. Robertus Robet on Republicanism 
Republikanisme berbingkai Pancasila. Deret kombinasi kata itulah yang pada akhirnya dipilih sebagai satu kalimat utuh untuk mendeskripsikan ideologi resmi yang dianut Partai SRI. 

Sebagaimana kita semua ketahui, bentuk negara kita adalah republik. Familiar dengan sebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Renungan Gerungian

Yang kita miliki kini cuma Industri Demokrasi, bukan Demokrasi dalam normatifitasnya yang sublim. 

Produk yang diolah mesin demokrasi ini ialah bahan mentah aspirasi yang diproses dalam satu gerak rutin putaran roda gila yang menjemukan. 

Resultannya kita namai komoditas aspirasi. Semata biar mudah menyebutnya. 

Komodifikasi aspirasi sejatinya kotoran yang keluar dari lambung para oligark. Benda-benda busuk ini kita sebut saja konsensus oligarki. Artinya, aspirasi kini bukan pertama-tama disuling dari letih tatib tata cara prosesi artikulasi atas apa yang terpancar dari dasar diri, yaitu yang lama terendap, yang tersarikan, dan yang selebihnya terbuang karena sengaja diseleksi; yang-Etik sebutannya.  

Artikuasi aspirasi bukanlah buah mentah yang jatuh ke tanah tanpa pernah mengecap matang. Melainkan yang telah masak-masak dipikirkan. Yang matang di renungan. Yang kenyal karena alot diperdebatkan; yang begitu lama dididihkan dalam panci uji laboratorium kesabaran. Itulah aspirasi, yakni satu praktik translasi sarat arti, yang dikalimatisasi dan ditulis sebagai proposal perubahan sosial.  

Namun ujung kerinduan ini kelihatannya belum jua tampak di pelupuk mata. Tak kunjung terlihat daratan. Masih terlunta-lunta di samudera. Sama sekali belum menunjukkan gelagat bahwa perjalanan akan segera diakhiri dengan pesta sederhana, yaitu mendekap rapat kegembiraan bersama. 

Di tengah-tengah perjalanan tak berkesudahan ini, nyali, daya juang, juga kesetiaan, terasa makin meniscayakan kesungguhan. Bukan main menuntut kita terus menerus tunduk pada batu ujian kegigihan. Sementara itu, yang terasing terus menerus disakiti, yang diam terus-terusan dibungkam, yang tampak setia justru dikhianati --dan celakanya semua itu justru dilakukan dengan mengatasnamakan demokrasi. 

Sekali lagi, tanpa bermaksud menggurui, yang cuma kita miliki adalah industri demokrasi. Itulah medan persoalannya sekaligus peta untuk menunjuki harus kemana dan atau akan harus kembali kedalam apa.


Demokrasi Kurva Lonceng


Il Maestro Rocky Gerung
Tiga survei tentang elektabilitas calon presiden 2014 dua pekan lalu. Tiga-tiganya datang dengan hasil berbeda. Kelirukah metodologinya? Atau desain risetnya memang dirancang unutuk “memenangkan sang calon”.

Kurva lonceng adalah ideologi para surveyor. Dijamin standar baku metodologi, kurva itu seharusnya tidak meliuk-liuk berlebihan.tapi sejak politik diasuransikan pada statistik, liuk kurva itu akan sangat bergantung pada premi para politikus.
Inilah kondisi politik hari ini: pertama, opini publik menjadi identik dengan hasil survei. Kedua, popularitas seorang tokoh hari ini tidak didebitkan pada cacat politiknya hari kemarin. Dua kondisi inilah yang menerangkan patologi politik kita hari ini: demokrasi tampak membengkak, tapi tidak tumbuh. Hiruk-pikuk debat publik sekadar menghasilkan bising, bukan suara. Politik kita silau oleh sensasi, tapi buta dalam substansi.

Pembengkakan tubuh politik itu akibat muatan kuantifikasi: penggalangan, pencitraan, arogansi dan transaksi. Politik membengkak karena kekuasaan ditimbun dalam ambisi kepentingan personal, bukan dalam niat keadilan sosial. Perlombaan inilah yang menumbuhkan industri opini publik dan sejak itulah politik menjadi urusan statistik.

Apakah sesungguhnya substansi politik? Demokrasi adalah ruang opini publik. Kontestasi kepentingan diselenggarakan disitu. Tapi ideal ini menghendaki prasyarat etik: seluruh latar belakang kepentingan harus dipamerkan terbuka. Dengan cara itu, politik diproduksi. Itulah politik yang otentik. Di belakang proses ini, bekerja nilai kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Nilai-nilai inilah yang kini hilang dari proposal riset publik, dengan akibat juga tugas etis politik untuk memberdayakan“the unspeakable” yaitu mereka yang ada di pinggiran kurva lonceng.

Kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Palang otentik ini mungkin terlalu tinggi untuk dilompati para perancang opini publik. Teori propaganda memang mengajarkan bahwa lebih mudah menggiring herd mentality menerobos dibawah palang. Artinya manipulasi opini publik memang sesuai dengan kondisi dasar psikologi massa: bergerombol tanpa ide, menunggu disuapi janji, lalu siap diperintah. Psikologi ini adalah lahan investasi para demagog. Dengan mengekspoitasi kedunguan publik, demokrasi masih dapat dipertanggungjawabkan dengan argument: “itulah kehendak mayoritas”.

Memang demokrasi lebih sering dimanfaatkan oleh para demagog dengan menurunkan standar etika politik. Disitu opini publik diperlakukan sebagai komoditas dalam “industri demokrasi”, dan dipasarkan melalui lembaga-lembaga survei. Filosofinya diperoleh dengan cara pragmatis dari prinsip demokrasi itu sendiri: demi kebebasan kompetisi politik, manipulasi opini publik harus diterima sebagai suatu bentuk upaya persuasi. Sampai disitu politik masih menjadi urusan publik. Artinya, sejauh manipulasi itu diedarkan di pasar informasi, ia terbuka untuk dipersaingkan. Demokrasi tetap percaya publik selalu memiliki cukup rasionalitas untuk menapis dan memilih.

Bila pasar informasi itu dikendalikan oleh kepentingan politik yang sama, yang terjadi bukan sekadar manipulasi, tapi juga monopoli opini publik. Dalam pasar semacam ini, prinsip “caveat emptor”  -teliti sebelum membeli- tidak berfungsi. Karena informasi tidak lengkap, tidak ada kesempatan memilih harapan. Demokrasi lalu menjadi sekadar ruang transaksi oligarki tempat tukar tambah kepentingan segelintir orang.

Apalagi politik kita pahami dari sudut pandang etik, yaitu tanggungjawab merawat kualitas demokrasi justru dibebankan kepada mereka yang secara akademis lebih mampu berfikir lurus dan panjang. Pada merekalah tuntutan atas kejujuran dan keadilan diharapkan: suatu etik “caveat venditor” –bahwa penjual jasa tidak menjual barang rongsokan. Agaknya, palang ini sudah lama roboh diterobos tubuh-tubuh bengak.

                                                                               ***

OPINI publik adalah peralatan ekstraparlementer dengan kekuatan supraparlementer. Ia mampu memelorotkan pamor seseorang pemimpin, tapi juga dapat dipakai untuk menyembunyikan niat korup dari seseorang tokoh. Disinilah “kapital media” beroperasi.

Manipulasi dan monopoli opini publik, menjadikan demokrasi sekadar menjadi bagian dari industri media. Fungsi institusi demokrasi bahkan dapat diambil alih oleh industri media: tekanan politik dapat dinegoisasikan diruang redaksi, dan sebuah “talkshow” dapat berubah menjadi ruang pengadilan.

Politik industri media ini jugalah yang menyebabkan demokrasi kita sekadar membengkak, tapi tidak tumbuh. Dalam demokrasi, setiap suara dihitung sama. Tapi arah suara publik dapat dimanipulasikan oleh indutri opini publik karena informasi tidak terakses sama oleh publik. Distorsi inilah yang menjadi ruang transaksi antara pembuat survei dan kepentingan pemesan. Sekali lagi, argumentnya adalah prinsip kebebasan kompetisi politik.

Dalam kondisi seperti itu, hubungan antara demokrasi dan opini publik menjadi tidak suci. Demokrasi memerlukan opini publik untuk mengetahui peta perebutan sumber-sumber ekonomi-politik, tapi demokrasi sekaligus dimanfaatkan sebagai ruang pembenaran ruang manipulasi. Paradoks inilah yang sedang kita alami.

Walau begitu, politik tidak boleh menjadi malas hanya karena kondisi yang menjengkelkan itu. Analisis politik adalah satu soal. Tapi kehendak politik harus melampaui apa yang faktual. Dengan sikap itu, kita memerangi “ herd mentality” dalam politik kita hari-hari ini. Radikalisasi ini kita perlukan untuk memastikan opini publik bukanlah  konsensus oligarki, parlementer, atau hasil olahan statistik. Opini publik adalah hasil dari konfrontasi etik, antara kehendak perubahan dengan kepentingan privat. Disitu statistik hanyalah konfirmasi terhadap kehendak pembaruan.

                                                                                         ***

POLITIK kita memang sangat terasa kuantitif: mobilisasi massa, belanja iklan, black propaganda. Tidak tersisa lagi ruang ide dan debat rasional. Politik sebagai percakapan keadilan diantara warga yang setara tidak lagi berlangsung. Mobilisasi Cuma menyetarakan massa didepan panggung para demagog. Dalam ruang kuantifikasi itu, warga negara sekadar dicacah sebagai konsumen, bukan prodsen demokrasi. Ia hadir dalam kerumunan, bukan ruang kewargaan. Ia sungguh-sungguh dinonaktifkan dari politik.

Sesungguhnya, demokrasi kita sedang kehilangan ide kesetaraan. Kita memilih demokrasi karena kita pernah kekurangan kebebasan. Tapi kini ruang demokrasi itu sepenuhnya dikuasai oleh blok oligarkis. Proses itu terjadi karena politik telah diselenggarakan secara kuantitatif: yang dieksploitasi adalah kepuasan tentang ada yang didepan mata, bukan tentang apa yang harus ada sebagai hak.

Mengaktifkan etika publik adalah upaya radikal mengembalikan politik warga. Politik kuantitatif-demagogis tidak hanya bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan, tapi juga merendahkan otonomi manusia. Ia menyelenggarakan keadilan dan kesetaraan agar otonomi itu tidak dimusnahkan oleh ambisi-ambisi kuantitatif: dari klaim keunggulan moral sampai keunggulan kapital.

Etika politik bertujuan mencegah pembengkakan politik. Etika politik menghendaki politik tumbuh dalam keadilan.

Survei politik masih akan berdatangan. Distorsi opini masih terus diproduksi. Kurva lonceng masih akan meliuk-liuk. Tapi politik tetaplah hak publik. Yang etik tidak mungkin diserahkan pada statistik. Politik sejati tidak diukur berdasarkan probabilitas, melainkan determinitas setiap subyek yeng menghendaki demokrasi tumbuh.

Ketika diminta mengomentari keruntuhan Imperium Romawi, Jeans Jacques Rousseau menjawab singkat “Etika politik adalah lambung demokrasi. Ia mencerna opini publik, lalu memisahkan mana opini bawaan, mana opini olahan."

ROCKY GERUNG
Pengajar Filsafat Universitas Indonesia